Info Sehat

Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Kehamilan Ektopik

Kehamilan Ektopik – Dari pembuahan hingga proses persalinan, kehamilan membutuhkan berbagai macam proses di dalam tubuh seorang wanita. Salah satunya adalah ketika...

Written by Rachmad · 4 min read >
Kehamilan Ektopik

Kehamilan Ektopik – Dari pembuahan hingga proses persalinan, kehamilan membutuhkan berbagai macam proses di dalam tubuh seorang wanita. Salah satunya adalah ketika telur yang telah dibuahi berjalan ke rahim.

Tetapi pada kasus kehamilan ektopik, telur yang telah dibuahi tersebut tidak menempel di rahim anda. Tetapi malah menempel di tuba falofi, rongga perut, atau serviks.

Meskipun tes kehamilan tersebut masih bisa memberikan hasil yang positif, tetapi sayangnya sel telur yang telah dibuahi tidak akan mampu untuk tumbuh di tempat lain selain di rahim anda, sehingga akan menyebabkan masalah yang serius.

Menurut Akademi Dokter Keluarga Amerika (AAFP – American Academy of Family Physician) mengatakan bahwa kehamilan ektopik bisa terjadi pada 1 dari 50 wanita hamil. Tingkat kemungkinan yang tinggi ini mengharuskan kita untuk berhati-hati dan rajin memeriksakan diri ke dokter kandungan selama proses kehamilan berlangsung.

Hal ini karena kehamilan ektopik yang tidak diobati bisa menjadi berbahaya dan mengancam nyawa sang ibu. Sementara pengobatan yang memadai dapat mengurangi resiko anda terkena komplikasi akibat kehamilan ektopik, meningkatkan kemungkinan selamat, kehamilan yang sehat, serta mengurangi resiko komplikasi kesehatan di kemudian hari.

Penyebab Kehamilan Ektopik

Penyebab dari kehamilan ektopik tidak selalu jelas. Tetapi jika melihat beberapa kasus yang terjadi, beberapa faktor resiko dan kondisi ini telah dikaitkan sebagai penyebab dari kehamilan ektopik, diantaranya:

  • Peradangan dan jaringan parut pada saluran tuba akibat infeksi, operasi, atau kondisi medis sebelumnya.
  • Faktor hormon.
  • Kelainan genetik.
  • Cacat lahir.
  • Kondisi medis yang mempengaruhi bentuk dan kondisi saluran tuba dan organ reproduksi.

Setelah anda melakukan pemeriksaan, biasanya dokter anda akan memberikan berbagai macam jenis informasi tambahan mengenai kondisi anda.

Kehamilan Ektopik

Siapa yang Beresiko Terkena?

Semua wanita dalam usia subur memiliki resiko terkena kehamilan ektopik, sekalipun mereka memiliki badan yang sehat. Tetapi resiko tersebut bisa menjadi lebih tinggi jika anda memiliki beberapa faktor seperti:

  • Usia matang sekitar 35 tahun ke atas.
  • Memiliki riwayat operasi panggul atau perut.
  • Pernah melakukan aborsi lebih dari sekali.
  • Pernah terkena penyakit radang panggul.
  • Pernah terkena penyakit endometriosis.
  • Terjadinya kehamilan meskipun menggunakan alat kontrasepsi.
  • Kehamilan dibantu dengan obat subur atau prosedur tertentu.
  • Merokok
  • Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya.
  • Pernah terjangkit penyakit menular seksual seperti gonorea atau klamidia.
  • Memiliki kelainan struktur pada tuba falopi sehingga membuat telur yang telah dibuahi mengalami kesulitan untuk menempel atau berpindah.

Jika anda memiliki satu faktor atau lebih yang telah disebutkan di atas, cobalah untuk berbicara dengan dokter jika anda saat ini tengah hamil atau memiliki rencana untuk menjalani proses kehamilan. Disarankan untuk lebih memilih dokter ahli kandungan untuk meminimalisir resiko yang mungkin terjadi di masa depan.

Gejala Kehamilan Ektopik

Perasaan mual dan rasa sakit di area payudara bisa menjadi gejala paling umum yang terjadi pada penderita kehamilan ektopik. Adapun beberapa gejala lainnya yang mungkin akan anda alami dan membutuhkan perawatan khusus adalah sebagai berikut:

  • Gelombang sakit yang menusuk dan tajam di area perut, panggul, bahu, dan leher.
  • Rasa sakit yang parah yang terjadi di salah satu sisi perut.
  • Bercak darah atau pendarahan di vagina anda.
  • Pusing atau pingsan.
  • Terdapat tekanan pada dubur.

Segera hubungi dokter atau lari ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan terbaik jika anda tengah menjalani proses kehamilan dan mengalami salah satu atau lebih gejala di atas.

Proses Diagnosa Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik tidak bisa didiagnosa melalui tes fisik. Tetapi dokter anda akan melakukan cara lain demi mengetahui apakah anda tengah mengalami kondisi ini atau tidak.

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan USG transvaginal. Cara ini dilakukan dengan memasukan alat seperti tongkat ke dalam vagina anda sehingga dokter anda mampu memastikan apakah kantung kehamilan tersebut ada di dalam rahim atau tidak.

Dokter anda pun akan menggunakan tes darah demi mengetahui kadar hCG dan progesteron anda, yaitu sejenis hormon yang terdapat dalam tubuh anda selama masa kehamilan.

Jika kedua hormon tersebut mulai berkurang atau kadarnya tetap sama setelah beberapa hari, disertai dengan kantung kehamilan yang tidak berada di dalam harim, maka kemungkinan besar anda tengah mengalami kondisi kehamilan ektopik.

Dan jika anda menjalani tes tersebut ketika sudah mengalami beberapa gejala parah seperti rasa sakit atau pendarahan, maka dokter anda pun tidak akan memiliki banyak waktu untuk melanjutkan diagnosa tersebut. Saluran tuba anda beresiko pecah dan menyebabkan pendarahan dalam, sehingga anda pun harus menjalani operasi darurat.

Pengobatan Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik tentunya merupakan keadaan berbahaya bagi sang ibu, dan embrio pun tidak akan mampu berkembang dengan tepat. Sangat diperlukan untuk menghilangkan embrio tersebut secepat mungkin agar sang ibu selamat dan masih bisa memiliki kesuburan dalam jangka panjang. Pengobatan sendiri tergantung dari lokasi kehamilan ektopik berada.

Obat-obatan Kehamilan Ektopik

Salah satu tugas dokter anda dalam melawan kehamilan ektopik adalah untuk memastikan bahwa kondisi tersebut tidak segera berkembang menjadi komplikasi. Maka dari itu, mereka pun akan segera meresepkan beberapa obat-obatan yang dapat menjaga agar massa ektopik tidak meledak. Menurut AAFP, obat yang paling sering digunakan adalah methotrexate (Rheumatrex).

Methotrexate merupakan obat yang dapat menghentikan pertumbuhan cepat pembagian sel, seperti sel-sel pada massa ektopik. Obat ini tersedia dalam bentuk suntikan. Anda juga harus mendapatkan tes darah secara teratur demi memastikan bahwa obat tersebut bekerja secara efektif.

Jika obat ini berhasil bekerja secara efektif, maka akan memberikan beberapa gejala yang mirip seperti keguguran, termasuk kram, pendarahan, dan lewatnya jaringan. Operasi lebih lanjut biasanya tidak dibutuhkan setelah ketiga kondisi tersebut terjadi.

Methotrexate juga tidak memiliki resiko yang sama seperti halnya pembedahan. Namun anda kemungkinan tidak akan mampu kembali hamil untuk beberapa bulan setelah menggunakan obat yang satu ini.

Operasi Kehamilan Ektopik

Seperti yang sudah disebutkan di atas, banyak sekali operasi kehamilan ektopik yang mengharuskan dokter untuk mengangkat embrio dan memperbaiki kerusakan di dalam tubuh anda. Prosedur operasi ini disebut sebagai laparotomy. Para dokter akan memasukan kamera kecil melalui sayatan untuk mendukung keberhasilan dari operasi ini.

Para ahli bedah tersebut kemudian akan menghilangkan embrio dan memperbaiki setiap kerusakan yang ada.

Baca juga : Gejala Eksim dan Cara Mengobatinya

Jika pembedahan tersebut tidak berhasil, maka ahli bedah akan kembali melakukan proses laparotomy, tetapi kali ini melalui sayatan yang lebih besar. Mereka pun kemungkinan akan mengangkat tuba falopi jika mengalami kerusakan.

Perawatan di Rumah Kehamilan Ektopik

Selanjutnya, dokter anda pun akan memberikan anda instruksi secara spesifik mengenai cara merawat bekas sayatan setelah operasi. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga agar sayatan tersebut tetap kering dan bersih hingga sembuh.

Adapun beberapa tanda adanya infeksi pada sayatan tersebut bisa berupa:

  • Pendarahan yang terus menerus terjadi.
  • Pendarahan parah.
  • Aroma busuk dari sayatan.
  • Rasa panas saat disentuh.
  • Kemerahan

Anda juga mungkin akan mengalami pendarahan ringan dan bercak darah kecil pada vagina anda setelah operasi. Kondisi ini akan terus terjadi hingga 6 minggu. Oleh karena itulah, anda disarankan untuk selalu:

  • Jangan mengangkat apapun yang memiliki bobot berat di atas 5 kg.
  • Mengkonsumsi banyak cairan demi mencegah konstipasi.
  • Istirahatkan panggul anda dengan tidak melakukan hubungan seksual sementara waktu.
  • Beristirahat penuh terutama satu minggu pasca operasi, kemudian tingkatkan aktivitas anda sedikit demi sedikit di minggu berikutnya agar tubuh anda mampu beradaptasi dengan gerakan.

Pastikan untuk selalu memberitahukan dokter jika rasa sakit tersebut meningkat atau merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *